Sabda Rasulullah saw Mengenai Seruan Ruh

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya:35)

Tidaklah ada satu makhluk bernyawa pun di dunia ini yang tidak akan mengalami kematian. Setiap yang bernafas pasti akan memenuhi panggilan Allah swt untuk kembali ke kampung akhirat, mempertanggung jawabkan segala amalannya selama hidup di dunia. Tidak akan ada satu pun makhluk hidup bernyawa yang dapat sembunyi ketika sang malaikat pencabut nyawa telah mendatanginya. Tiada satupun tempat sembunyi yang aman dari malaikat maut ketika Allah swt telah memerintahkan malaikatnya untuk mencabut nyawa si fulan atau fulanah.

Ketika ajal telah memanggil, tidak ada yang mampu menghentikan, tidak ada yang mampu bersembunyi, dan tidak ada yang mampu menunda. Tidak ada yang dapat bernegosiasi dengan malaikat pencabut nyawa yang akan melaksanakan perintah Allah swt. Tidak ada yang dapat menemani pula, ketika ruh telah lepas dari tubuh, kecuali ilmu yang bermanfaat, amal sholeh, dan sodaqoh jariyah. Untuk itu, tidak cukup bagi kita dengan hanya merasa takut akan datangnya ajal yang telah ditentukan bagi kita, melainkan harus mempersiapkan bekal untuk perjalanan abadi tersebut.

Berikut ini adalah sekelumit kisah penggugah hati yang terdapat dalam kitab Daqoiqul Akbar Fii Dzikril Jannati Wan-Nar, karangan Imam Abdirrahim bin Ahmad Al-Qadhiy, yang menceritakan keadaan ruh ketika ia telah lepas dari dalam tubuh:

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra., beliau berkata: “Aku sedang duduk bersila didalam rumah ketika Rasulullah masuk dan memberi salam kepadaku, maka aku berdiri untuk menyambut kedatangannya sebagaimana biasanya. Lalu Rasulullah saw bersabda: “Duduklah pada tempatmu, tidak usah berdiri wahai Ummul Mukminin.” Aisyah melanjutkan ceritanya, kemudian Rasulullah saw duduk dan meletakkan kepalanya pada pangkuanku dan tidur terlentang. Dengan tidak sengaja aku mencari uban yang ada pada jenggot beliau dan terlihatlah 19 rambut yang telah memutih, maka aku berpikir dalam hatiku dan berkata: “Sesungguhnya dia akan keluar dari dunia sebelum aku, dan tinggalah umat yang tanpa Nabi.” Maka aku pun menangis sehingga air mataku mengalir di pipiku dan menetesi wajah beliau hingga beliau terbangun dari tidurnya, lalu beliau bersabda: “Apa yang membuatmu menangis wahai Ummul Mukminin?” Maka aku ceritakan apa yang aku rasakan. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Keadaan apakah yang paling menyusahkan bagi mayit?” Aku berkata: “Katakanlah ya Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda: “Engkau dulu yang mengatakan” Maka aku pun berkata: “Tidak ada keadaan yang paling menyusahkan atas diri mayit dari pada saat keluar dari rumahnya, anak-anak berduka cita dibelakangnya, dan mereka berkata: ‘Aduh ayah! aduh ibu!’ dan orang tuanya berkata: ‘Aduh anak-anakku!’” Maka Rasulullah saw. menjawab: “Ini memang pedih, tapi ada lagi yang lebih pedih dari itu.” Aku pun berkata lagi: “Tidak ada keadaan yang lebih berat atas diri mayit dari pada saat dia dimasukkan dalam liang lahat dan dikubur di bawah tanah, para kerabat, anak dan kekasihnya meninggalkannya pulang. Maka mereka menyerahkan mayit tersebut kepada Allah Swt. beserta segala amal perbuatannya. Setelah itu datanglah malaikat Munkar dan Nakir dalam kuburnya” Rasulullah saw. bersabda: “Apa yang lebih berat dari yang engkau katakan?” Aku pun berkata: “Allah dan rasul-rasul-Nya yang lebih tahu.”

Rasulullah saw. bersabda: “Hai Aisyah, sesungguhnya saat yang paling berat (menyedihkan) bagi mayit adalah saat masuknya tukang memandikan mayit kedalam rumahnya untuk memandikannya, mereka mengeluarkan cincin pemuda itu dari jari-jarinya, melepas pakaian pengantin dari badannya dan melepas sorban para syaikh dan fuqaha’ (ahli fiqih) dari kepalanya untuk memandikannya. Ketika itu ruhnya memanggil (berseru) saat melihat jasadnya telanjang dengan suara yang dapat didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia, dia berkata: “Hai tukang memandikan, aku memohon kepadamu demi Allah agar engkau mencopot pakaianku dengan pelan-pelan, karena sesungguhnya saat ini aku sedang istirahat dari sakitnya pencabutan Malaikat Maut”. Dan ketika air dituangkan kepadanya dia menjerit dan berkata: “Hai tukang memandikan, Demi Allah jangan engkau tuangkan air panas, jangan engkau gunakan air panas dan jangan pula dengan air dingin, sesungguhnya jasadku telah terbakar sebab dicabutnya nyawaku.” Dan ketika dimandikan, dia berkata: “Demi Allah, hai tukang memandikan, janganlah engkau pegang diriku terlalu kuat, sesungguhnya jasadku terluka sebab keluarnya nyawa.” Dan ketika selesai memandikan dan diletakkan pada kain kafan dan diikat di bawah kakinya, ruh berseru: “Demi Allah, hai tukang memandikan, janganlah engkau ikat erat-erat lain kafan diatas kepalaku agar terlihat wajah keluargaku, anak-anakku dan kerabat-kerabatku, karena saat ini adalah yang terakhir aku melihat mereka, hari ini aku akan berpisah dengan mereka dan aku tidak bisa melihat mereka lagi sampai hari kiamat.”

Ketika mayit akan dikeluarkan dari rumah, maka ruh tersebut berseru: “Demi Allah, hai jamaah pengantarku, jangan tergesa-gesa membawaku sehingga aku berpamitan dengan rumahku, keluargaku, kerabatku dan hartaku.” Kemudian mayit berseru lagi: “Demi Allah, hai jamaahku, aku tinggalkan istriku menjadi janda, dan aku tinggalkan anakku menjadi yatim, maka janganlah kalian menyakitinya, karena hari ini aku keluar dari rumahku dan tidak akan kembali selamanya.” Dan ketika mayit diletakkan pada keranda, ruh berkata: “Demi Allah, hai jamaah pengantarku, janganlah tergesa-gesa membawaku, hingga aku mendengar suara keluargaku, anak-anakku dan para kerabatku, karena hari ini aku berpisah dengan mereka sampai hari kiamat.”

Ketika mayit dipikul dan melangkah tiga langkah dari rumah, maka ruh berseru dengan suara yang dapat didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia, dan ruh berkata: “Hai para kekasihku, hai saudara-saudaraku, hai anak-anakku, jangan sampai kamu terbujuk oleh dunia sebagaimana dia telah membujukku dan jangan sampai kalian dipermainkan oleh zaman sebagaimana dia mempermainkanku, dan ambillah ibarat (hikmah) dariku. Sesungguhnya aku meninggalkan apa yang aku kumpulkan untuk ahli warisku, dan aku tidak membawa sesuatu apapun dan atas dunia Allah menghisabku sedangkan engkau bersenang-senang dengannya dan engkau tidak mendoakanku.”

Ketika jamaah menshalati mayit dan sebagian ahli (keluarga) dan kerabatnya meninggalkan mushala, ia berkata: “Demi Allah, hai saudara-saudaraku, Sesungguhnya aku tahu bahwa mayit (orang yang mati) akan dilupakan oleh orang-orang yang hidup, akan tetapi jangan lupa, jangan cepat-cepat pulang sebelum engkau menguburku hingga engkau melihat tempatku. Hai saudara-saudaraku, sesungguhnya aku tahu bahwa waka mayit lebih dingin dari air yang dingin (zamharir) dalam hati orang-orang yang hidup, akan tetapi janganlah cepat-cepat pulang.” Dan ketika mereka meletakkan mayit disisi kubur, ia berkata lagi: “Demi Allah, hai jamaahku dan saudara-saudaraku, sesungguhnya aku mendoakan kamu semua, akan tetapi engkau tidak mau mendoakanku.” Dan ketika mayit diletakkan pada liang lahad, ia berkata: “Demi Allah, hai ahli warisku, tidak aku kumpulkan harta yang banyak dari dunia kecuali aku tinggalkan untuk kalian, maka ingatlah kalian kepadaku dengan banyak berbuat kebajikan. Dan aku telah mengajarkan kalian Al-Quran dan tata krama, maka janganlah kalian lupa mendoakanku.”

Lihatlah, betapa Rasulullah saw telah menggambarkan bagaimana lemah dan tiada dayanya setelah ajal memutus nikmat dunia kita. Apalagi yang akan kita lakukan selain berserah kepada Zat Yang Maha Kuasa di hari manakala tidak ada satupun makhluk dapat selamat dari azab-Nya.

“Dan sesungguhnya Saat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan Allah membangkitkan semua orang yang di dalam kubur.” (QS. Al Hajj:7)

Sesungguhnya, masa kematian itu pasti akan datang. Dimanapun kita berada dan sedang apapun kita, kematian itu pasti akan mendapatkan kita tanpa basa-basi ketika saat yang ditetapkan telah tiba. Maka dari itu, hendaknya kita senantiasa mempersiapkan diri dengan sisa usia yang entah tinggal berapa lama ini. Kita tak pernah tau kapankah kematian itu akan menghampiri kita. Mungkin ia akan menemui kita setahun yang akan datang, sebulan yang akan datang, seminggu yang akan datang, esok, bahkan mungkin satu menit setelah kita membaca artikel ini. Jangan sampai sisa usia yang tidak seberapa ini berlalu dengan sia-sia, sehingga penyesalan tiada guna yang akan menjadi titik akhir kehidupan kita, sebagaimana firman Allah swt berikut:

“Sehingga apabila kematian datang kepada seorang dari mereka, dia berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku, supaya aku membuat amal kebaikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak, itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di belakang mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mukminun:99-100)

Semoga sekelumit kisah yang disampaikan oleh Rasulullah saw di atas dapat membuka hati kita untuk senantiasa memanfaatkan sisa usia yang entah tinggal berapa lama ini dengan baik, untuk beribadah hanya kepada Allah swt semata. Amin.

Rasulullah saw bersabda :“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” ( HR. Ahmad)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: