Danau Kelimutu

Danau KelimutuTerletak di sebelah timur kepulauan Sumbawa, 10 derajat lintang selatan dan 119 – 124 derajat bujur timur. Merupakan kepulauan yang unik dengan rangkaian pegunungan disepanjang garis tengahnya. Sebagian besar orang (termasuk saya) mungkin tidak pernah berpikir bahwa Flores mempunyai segudang objek wisata yang patut dibanggakan selain Danau Kelimutu.

Hingga akhirnya kami berdua dan kitab Lonely Planet, kami nekad untuk menjajagi tanah Flores, dimulai dari Maumere disebelah utara hingga ke Labuan Bajo di ujung barat pulau Flores.

Catatan perjalanan:

Danau KelimutuKami berangkat dengan Pelita Air dari Cengkareng menuju Maumere dengan transit 30 menit di Surabaya, dan 30 menit stop over di Denpasar. Total penerbangan hanya 2 jam 15 menit. Jam 6 pagi kami take off dari Cengkareng dan landed dengan selamat jam 11.30 WITA di bandara Waioti Maumere. Lokasi pertama yang kami tuju adalah Danau Kelimutu, the most spectacular sights in NTT – yang bisa juga ditempuh dengan pesawat tujuan Ende dan perjalanan darat sejauh 52 km yg ditempuh selama +/- 2 jam karena jalan berliku-liku dan ada beberapa jalan putus akibat gempa awal tahun.

Dari Maumere ke Kelimutu (kec Moni), melalui jalan yang berliku-liku, kanan-kiri hutan, dan terkadang tepian laut, dan sangat jarang berpapasan dengan bus. Maumere terletak di Kabupaten Sikka, tempat kelahiran Frans Seda. Sedangkan Kelimutu terletak di Kabupaten Ende. Perjalanan ditempuh selama 3 jam.

Tiba di Moni, sepanjang jalan menuju danau Kelimutu terdapat beberapa penginapan dengan room rate rata-rata sekitar 40 ribu hingga 75 ribu per malam. Kami menginap di Sao Ria Wisata, salah satu penginapan yang direkomendasikan oleh Lonely Planet, ada beberapa penginapan lainnya misalnya Hidayah, Regal Jaya, Nusa Bunga dan Arwanti Homestay. Dan kebanyakan dari penginapan2 tsb terisi penuh oleh tourist. Fasilitas tanpa AC, karena udara cukup dingin seperti di puncak. Dan kamipun membaringkan badan, melepas penat.

Jarak desa Kelimutu ke danau, sekitar 14 km – the winding road, meskipun tidak terlalu menanjak, jalan hotmix mulus sekali! Untuk naik menuju danau, disarankan bawa kendaraan pribadi ato naik Bus Kayu ato tepatnya sebuah truk kayu yang dimodifikasi sedemikian rupa lengkap dengan bangku-bangku kayu yang panjang, hanya saja, tanpa pintu dan harus memanjat dari sisi kanan/kiri. Untuk jalan turun, bisa saja jalan kaki, yang ditempuh sekitar 2.5 hingga 3 jam, tapi sangat disarankan, kalo mo jalan turun, dipastikan punya waktu luang setelahnya. Soalnya kami termasuk ‘korban kebodohan’ sok become a hardy soul..padahal waktu mefet!

Danau KelimutuPerjalanan dg bus kayu makan waktu 1 jam, dan biasanya bus akan berangkat dini hari jam 4 untuk mengejar sunrise. Sebelum tiba di kawasan danau, harus membayar tiket masuk sebesar 5000 rupiah/orang dan mobil pribadi sekitar 10.000 (murah sekali!!!).

Dari parkiran, kami berjalan menuju jalan setapak terbuat dari paving block, kanan kiri perdu lebat. Jangan lupa bawa jacket, krn disamping suhunya dingin sekali, berjalan rapat dengan perdu bikin baju basah! Berjalan menuju look out point selama 20-30 menit. Look out point tempat melihat sunrise, dan bias memandang ke-3 danau dengan leluasa. 15 menit terakhir menuju look out point, jalan udah di semen, dengan anak-anak tangga, yang bikin saya sesak nafas! Phew! Danau Kelimutu berada di ketinggian 1640 mdpl dengan suhu antara 10-15 derajat.

Dan segala penat menguap seiring dengan segaris cahaya yang merobek langit dengan cahaya keemasannya. Sederet gumpalan awan hitam yang menghalangi cakrawala seperti tak sanggup membendung pendar-pendar cahaya yang semakin lama semakin terang. Morning has broken! Dan, seketika mata ini serasa meloncat dari tempatnya ketika tertuju ke satu kolam raksasa dengan warna hijau turquoise. Di sisi yang lebih jauh, tersembul warna coklat (inilah danau yang dulunya pernah berwarna Merah Maroon – kebayang ngga sih?).

Di sisi lain ada sebuah danau yang terpisah, letaknya persis di sebelah look out point, berwarna hitam kelam. Danau ini 5 tahun lalu berwarna hijau bercampur putih susu (warna apa yaaa?). Kalo pengen tau, lihat di uang lima ribuan jaman sebelum yang baru – ada gambar danau kelimutu. Warna danau yang terpisah, seperti itulah…

Saya jadi teringat, satu sobekan puisi yang berusaha mengungkapan keindahan danau kelimutu yang saya pun sampai detik ini ngga bisa mendiskripsikan perasaan saya mengenai kelimutu. Sobekan puisi itu:

Ketika Tuhan menciptakan dan mewarnai bumi, di Kelimutu-lah, DIA mencuci kuasnya.

that’s great!!!

Layaknya adat timur yang tak lepas dari legenda, Kelimutu pun punya satu legenda. Sampai saat ini, masyarakat Kelimutu percaya, bahwa Mae, seorang dewa yang bertugas untuk mengatur kehidupan di alam baka. Roh-roh dari orang yang meninggal, satu persatu akan bersemayam di danau berdasarkan amal baktinya selama hidup.

Danau KelimutuDanau Arwah Muda-Mudi (Tiwu Nua Muri Kooh Fai*) yang berwarna hijau turquoise, akan dihuni oleh roh-roh orang yang meninggal di usia remaja, anak-anak dan bayi. *Ajaibnya hanya Danau Muda-Mudi ini yang dikabarkan tidak pernah berganti warna.
Danau Arwah Yang Ditenung (Tiwu Ata Polo*) yang sekarang berwarna coklat, dihuni oleh roh-roh orang-orang yang dimasa hidupnya pernah membunuh, mencuri, atau orang2 jahat lainnya.
Danau Arwah Orang Tua (Tiwu Ata mBupu*) berwarna putih susu bercampur kehijauan, dihuni oleh roh-roh orang yang meninggal di usia tua.

Perubahan-perubahan warna pada danau, disebabkan oleh berubah-ubahnya endapan mineral yang terdapat di dasar danau. Sekaligus, cuaca yang sangat tidak stabil. Kelimutu menyimpan daya magis tersendiri yang bisa saya tangkap oleh my another sense (saya ngga yakin saya punya the sixth sense..hehe).

Pengunjung bisa turun mendekati danau, hanya ditempat yang sudah disediakan. Biasanya dipagari oleh pagar besi setinggi dada. Tapi, kami sempat turun ‘derailed’ dari jalur yg sebenarnya, menuruni lembah, dan kami tiba di bibir danau muda-mudi. Dibawah kami menganga kolam raksasa itu (duh kalo inget, kaki gemeteran nih!). Ada cerita, seandainya orang melempar batu ke dalam danau, maka batu tersebut akan mental. Tapi terus terang saja, saya tidak berani untuk mencobanya.

Sore itu, seiring dengan turunnya matahari ke peraduan, kami tiba di kota Ende. Ada beberapa tempat yang kita kunjungi; Blue Stone Beach, Situs Rumah Bekas Pembuangan Bung Karno, dan yang jelas, BELANJA kain di Pasar Ikat.

Anyway, masih ada situs-situs wisata lain yang kami dikunjungi, dikemas dan dibawa pulang untuk diceritakan kepada kalian semua.
Kamis, 2 Juni 2009
Happy Travelling !
Dennie n Tatuk
Penulis : kang_fathur
Lokasi : Ende
Fotografer : Dennie + Tatuk
Sumber : Navigasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: