“Barong dan Rangda” Diminati Wisatawan

GIANYAR, KOMPAS.com

Hiasan kerajinan tangan jenis barong dan rangda yang dipercayai oleh umat Hindu di Bali sebagai simbol kebaikan dan kejahatan diminati wisatawan Jepang.

“Hiasan kerajinan tangan jenis barong dan rangda diminati oleh wisatawan Jepang, kata I Made Sukawana, salah seorang perajin barong di Banjar Mawang, Delodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali, Selasa.

Setiap bulannya, kata Suwana, pihaknya bisa menjual empat sampai enam kerajinan tangan jenis barong dan rangda itu. “Umumnya wisatawan Jepang datang langsung ke rumah atau toko kami untuk membeli kerajinan tangan khas Bali itu,” ucapnya.

Ia menjelaskan untuk ukuran barong mini yang dibuat dari kulit sapi bulu prasok (jenis tumbuhan) lengkap dengan tapel (topeng) dijual dengan harga Rp 600.000. “Satu barong mini dengan panjang 55 cm sangat diminati wisatawan karena mudah dibawa sebagai cinderamata dari pulau Bali,” jelasnya.

Sedangkan, kerajinan untuk jenis “rangda”, kata Sukawana dijual seharga Rp2 juta sampai Rp3 juta atau lebih mahal dari barong ukuran mini. “Mahalnya harga kerajinan Rangda, karena mempergunakan rambut bulu kuda, serta topengnya terbuat khusus dari kayu pule,”  jelasnya.

Selain itu, ia mengemukakan, proses pembuatannya juga membutuhkan waktu sampai dua minggu lebih. “Kalau kerajinan tangan topeng Rangda dengan ukuran rambut sampai 100 cm membutuhkan waktu dua Minggu untuk membuatnya,” ucapnya.

Saat ini, kata Suwana, dari 35 karyawan yang dimilikinya, pihaknya mampu memproduksi setiap harinya 10 kerajinan tangan jenis barong mini, sedangkan untuk rangda tergantung pemesanan.  “Karena kerajinan tangan jenis rangda lebih mahal harganya kami hanya membuat sesuai dengan pesanan,” jelasnya.

Barong dan rangda sangat disakralkan oleh Umat Hindu di Bali, seperti dikutip dalam lontar Siwa Tatwa disebutkan tentang cerita barong dan rangda.

Dalam lontar itu, ucap Sukawana ketika hari raya Tilem ( bulan mati) sasih kelima, Sang Hyang Siwa turun ke bumi, karena sang istri berubah wujud menjadi wanita yang sangat menyeramkan. “Ketika turun ke Bumi istri dari Sang Hyang Siwa berubah menjadi Sang Hyang Berawi yang bermuka seram, serta menakuti manusia di bumi ini,” katanya menjelaskan.

Melihat kenyataan itu, setelah nyampai di Bumi, Sang Hyang Siwa akhirnya merubah wujud menjadi Bhuta Egeg atau raksasa barong. “Bentuk barong ini kelihatan sangat menakutkan dengan mata bundar melotot,” ujarnya.

Dengan perubahan wujud sebagai raksasa itu, kata Sukawana, akhirnya wujud sang istri yang menyeramkan berubah menjadi cantik seperti sediakala serta tak mengganggu manusia di bumi lagi. “Cerita inilah dipercayai kalau barong dan rangda itu sebagai simbol kebenaran dan kejahatan, ” jelasnya.

Sampai saat ini, lanjut Sukawan, barong dan rangda selalu dikaitkan dengan sifat manusia ,yakni baik dan buruk yang selalu mewarnai kehidupan di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: