Renungan diri (Aku Benci Masa Lalumu)

Sebenarnya hari ini memang kesal bukan kepalang. Yang namanya masalah, ada saja datang dari pintu yang tidak kuketahui. Meski pintu satu sudah kupalang dengan lega hati sebanyak-banyaknya, namun pintu yang lain terbuka, menguak seperti kentut yang lewat tanpa permisi.

Aduh! Cukup lah! Masak sehari saja aku tidak bisa damai!

Sebenarnya kalau dipikir-pikir. Semua hal yang tidak mengenakkan ini terjadi karena ulahku sendiri. Terutama kekesalan pada masa lalu yang tidak bisa kuselesaikan dengan baik. Mau jadi apa aku, ya? Mengapa disaat usiaku menjelang 30 tahun aku masih bermasturbasi dengan berbagai macam keingin tahuan, sementara ingin tahu itu menyebalkan sekaligus memabukkanku untuk menggalinya lebih dalam lagi.

Ini tentang cemburu. Kepadamu dan juga kepada masa lalumu.

Semua perempuan pasti merasakan ini. Merasa dirinya tidak cantik padahal jelas-jelas kau bilang aku cantik. Merasa dirinya bodoh, padahal jelas juga kau bilang dan banyak orang bilang aku cerdas. Merasa dirinya bukan siapa-siapa, tapi jelas-jelas aku yang paling dirindukan olehmu dan si kecilku. Lantas? Kenapa sih harus datang lagi rasa itu? Entahlah, mungkin karena itulah aku dilahirkan di golongan manusia. Rasa cemburu yang menjalar ini menandakan bahwa aku memang bukan hewan yang cuma mengandalkan naluri. Aku bisa jadi setengah setan karena sifat pencemburu ini, namun aku malaikat sekaligus yang berusaha memaklumi kalau aku memang setan.

Dan lagi-lagi karena keisengan ini, aku menjadi gundah.

Cuma karena satu kalimat kecil dengan wedang ronde sebagai pembuka, kau mampu membuatku cemburu. bukan apa-apa. aku sempat berpikir, kenapa bisa kau berterus terang kepada umum bahwa kau pernah menyukainya, meskipun itu dulu. Dan sebenarnya tidak sulit bagiku untuk memahaminya. Toh, memang kalian dekat, berkawan, pernah mempunyai rasa yang sama. And so what gitu, lho?

Intinya bukan “so what”. Intinya adalah, aku cemburu. mengenai keadaan ini dimana dipisahkan aku dan kamu sementara aku tau dia lebih dekat, walau jauh secara hati dan pikiran. Dan pikiranmu serta hatimu merapat didiriku. Ah, keparat! kenapa rasa ini ada, ya? Padahal ini bukan aku sebenar-benarnya. Kelak kau akan tau beberapa orang yang dulu pernah singgah sampai memelas mengharapkan aku mencemburui mereka tetapi tak pernah bisa.

Kenapa ini semua terjadi ketika denganmu saja?

Apa karena statusku yang begitu rumit di kultur masyarakat bangsa ini, sehingga aku harus selalu merasakan pahitnya menjadi seorang yang sendirian dengan darah daging? Jangankan orang lain, tetanggaku yang saban hari melihatku mondar-mandir mengantarkan temaliku sekolah, saban hari kulemparkan senyum sembari kutanya keadaannya hari ini, mereka masih bisa memberikan penghakiman atas status yang tidak pernah kuinginkan. Siapa yang mau jadi janda, Bahkan terlintas sedikit pun tidak pernah!

Entahlah. Dimana-mana wanita single (belum pernah menikah apalagi mempunyai anak), kelihatan jauh lebih menarik dan acapkali lebih diterima tanpa tahu bahwa sebenarnya mereka mungkin bisa jadi lebih jalang dari pada aku. Tapi ya, bagaimanapun aku memang harus berusaha mengubah stigma semua orang di negeri ini untuk menerima aku sebagai manusia. Bukan karena status. Bukan karena apapun. Sebab manusia, meskipun ia kecil, berhak untuk hidup.

Itulah yang mungkin masih menjadi sebuah ketakutan bagiku dan jutaan perempuan lain yang bernasib sama.

Aku tau, ini tak sedikitpun terlintas di benakmu. Sebab rasamu padanya sudah berakhir (semoga). Ini hanya ketakutan perempuan sepertiku yang mungkin sebelumnya harus menghadapi semua ini serba sendirian. Lucunya, kenapa saat sendiri, aku begitu kuat? Ini pun aku sedang mencari jawaban atas pertanyaanku.

Tidak! Aku tidak akan pernah mau kau tinggalkan!

Berbagai macam harapanku, salah satunya, kurang lebihnya aku terimalah dan jangan pernah berpikir untuk membandingkanku dengan siapa pun. Apalagi dengan masa lalumu yang kerap memabukkan itu. Jangan juga berpikir untuk mencari penggantiku, kecuali jika aku meregangkan nyawa di hadapan wajah manismu. Dunia ini memang retorika Tuhan terbesar, dan aku sempat tak mau kehilangan. Namun Tuhan tentunya tau yang terindah untuk aku. Jika memang aku harus kehilangan segalanya kelak, jelas bukan dari keinginanku. Aku sudah sering dikalahkan keadaan. Biarlah. suatu saat akan ada yang bisa kugenggam, meski itu tanpa ada yang menyayangi aku. ini seandainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: