Mentawai, Surga Buminya Wisatawan

Sekitar akhir Oktober lalu enam orang sekawan turis asal Australia melangkah mantap menaiki Kapal Simasin di pelabuhan TPI Bungus yang akan berangkat menuju Sioban, terus menyisir menuju Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Bersamaan penulis ikut juga diatas kapal tersebut. Para bule asal Australia itu pergi ke Mentawai untu berselancar atau surfing. Sejak sore sekitar pukul 20.00 WIB mereka sudah naik ke kapal, mengambil posisi duduk pada dek kapal bagian belakang yang terletak di lantai dua. Hanya bangku-bangku sederhana terbuat dari kayu disana dengan pemandangan laut lepas yang membiru. Barang bawaan mereka tak lain tak bukan dari papan selancar yang terbungkus rapi dalam kantongnya.
Hempasan pinggul mereka yang duduk dibangku-bangku kayu dek kapal seolah memberi isyarat betapa senangnya mereka sudah naik Simasin yang akan berlayar menuju Mentawai, kata orang-orang dunia Mentawai itu surganya para pencinta surfing karena ombak lautnya salah satu terbaik didunia.
Memiliki lebih dari 100 spot gelombang dan menjadi tuan rumah penyelenggaraan world srufing championship yang disponsori Ocean Pacific tahun 2002 dan 2003 lalu. Menjadi tuan rumah final seri kejuaraan dunia surfing yang diikuti peselancar nomor wahid dunia.
Lepas sudah tawa mereka, raut wajah mereka riang dan tak hentinya bercerita, entah apa ceritanya, tak tahu pulalah sebab penulis tidak mengerti dengan bahasa kampung para bule itu. Yang jelas kata Mentawai sering mereka sebutkan.
Sunyinya malam dan dinginnya hembusan angin malam ditengah laut ketika Kapal Simasin sudah bergerak meluncur ketengah laut menuju Mentawai sekitar pukul 20.00 WIB terlupakan karena riuhnya gelak tawa para bule tersebut. Surfing… surfing…Mentawai, itu yang bisa penulis tangkap dari bahasa mereka dengan khasnya Australia.
Salah seorang diantara mereka pandai berbahasa Indonesia, selain itu bahasa daerah Bali juga ia kuasai. Pria pirang itu namanya Kevin Lewis, ia sudah 15 tahun tinggal di Bali dan sudah yang ke-16 kalinya ia datang ke Mentawai. Tujuannya hanya satu, berlibur sambil berselancar. Di Bali untuk melakukan selancar kata Kevin bagus, ombaknya cantik cocok untuk olahraga air yang satu itu. Tapi dibanding dengan ombak Mentawai, amatlah jauh tinggalnya ombak Bali.
Ombak Mentawai katanya bak pelepas rindu setahun, pelepas dahaga di gurun. Begitu benarlah ungkapan yang ia berikan pada wisata yang satu itu. Dasar itupula, ia selalu rindu dengan Mentawai.
Begitu juga dengan teman-temannya yang berprofesi sebagai musisi di Australia. Mereka sudah sejak setahun kurang mengumpulkan uang, khusus untuk datang ke Bali dan Mentawai. Kata Rudd, salah seorang dari mereka nama Mentawai sudah tidak asing lagi bagi mereka di Australia, cerita akan ombaknya yang terbagus di dunia selalu mereka dengar dari mulut kemulut. Banyak orang Australia yang bermimpi datang ke Mentawai, termasuk ia dan teman-temannya.
Kata Rudd, indahnya wisata Mentawai bukan iklan saja, karena temannya Kevin sudah membuktikan hingga belasan kali. Selain itu, teman-temannya yang lain di Australia yang sudah pernah mencoba surfing di Mentawai kembali ke Australia tidak pernah merasa menyesal, malah mengatakan akan kembali lagi ke Mentawai. Dasar itu pula, ia dan teman-temannya berjuang setahun mengumpulkan uang untuk bisa pula sampai ke Mentawai.”It’s serius,” katanya malam itu yang semua ceritanya diterjemahkan Kevin kepada penulis.
Potensi wisata Mentawai yang terkenal ombak teleskopnya itu memang menggiurkan para pecinta surfing di belahan dunia ini. Hasil penelusuran pada internet belum satu akunpun atau user yang mengatakan jelek ombak Mentawai. Ombak terbaiknya ada sekitar bulan April hingga Agustus dengan ketinggian 3 sampai 7 meter. Sungguhlah hebat pulau yang nun jauh di tengah laut itu, berada pada jarak 150 km di lepas pantai Pulau Sumatera.
Menuju Mentawai memakai alat transportasi kapal selama lebih kurang sepuluh jam, atau bisa juga dengan pesawat perintis yang terbang setiap hari yang mendarat di Rokot, dekat dengan Tua Pejat, waktunya sekitar 35 menit.
Bila memakai kapal, memasuki wilayah Mentawai pemandangan alam yang indah dengan laut biru dan pasir putih di sepanjang pantai Mentawai akan terlihat. Pulau yang melintang panjang, tertanami pohon nan hijau bak buaya sedang tidur. Pulau-pulau kecil menambah titik pandangan yang tak pernah membosankan apalagi ditambah udara pagi yang segar.
Beranjak fajar akhirnya sampai di Sioban, bule-bule Australia itu tidak tidur. Mereka asyik bercerita, Kevin sudah membayangkan kepada mereka tentang apa yang akan mereka lakukan esok hari. Bangga dan bahagia mereka berkunjung ke Mentawai. Kata Kevin mereka akan menuju Bosua, salah satu lokasi surfing mentawai. Selain Bosua di Mentawai, selancar biasanya dilakukan di Nyang Nyang, Pulau Sinyaunau, Pulau Mainu, Pulau Kara Majat, Nipusi, dan Teluk Simasin (Pulau Siberut). Pulau Pitotogati, Teluk Simapadeg, Pulau Pitotay, Tanjung Simailupa, Pulau Tobo, Pulau Siduamata, Katiet (Pulau Sipora) dan Macaroni.
Tanjung Takarimau, Pulau Batumalai, Teluk Pasangan, Pulau Betumonga dan Sabea-Guguk (Pulau Pagai Utara), Pulau Sibigau, Pulau Libuan, Pulau Silau, Teluk Tio, Pulau Siumang, Pulau Simonga, Pulau Sanding, dan Pulau Bitojat (Pulau Pagai Selatan).
Benarlah, sekitar pukul 07.00 WIB Kapal Simasin bersandar di pelabuhan Sioban, para bule itu langsung mencarter boat untuk berangkat menuju Bosua. Sementara Simasin masih bersandar di Sioban, akan berlayar lagi menuju Tua Pejat sekitar pukul 13.00 WIB siang itu, para bule-bule Australia itu sudah pergi dengan boat menuju Bosua.
Begitulah Mentawai, bumi Sikerei yang terletak di Propinsi Sumatra Barat. Kabupaten seluas 601 km persegi ini didiami oleh 64.235 jiwa yang sebagian besar adalah masyarakat asli. Kepulauan Mentawai terdiri dari 213 pulau dengan 4 pulau utama yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Beribukota di Tua pejat, Kabupaten Mentawai terbagi menjadi 4 kecamatan dan 40 desa. Keelokan alam dan lautnya sudah mendunia, ribuan wisatawan datang setiap tahun.

Potensi Wisata Mentawai
Di Mentawai selain terkenal dengan lokasi surfing terbaik ke tiga di dunia juga menyimpan sejumlah objek wisata andalan dan pusat konservasi. Sejak tahun 1981, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Pulau Siberut sebagai salah satu cagar biosfer, keberadaannya dilindungi dan dijauhkan dari eksploitasi. Disana juga ada empat primata endemik Mentawai, yaitu simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), dan beruk mentawai (Macaca pagensis). Saat ini, untuk meneliti kekayaan primata Mentawai sudah ada Proyek Konservasi Siberut yang didirikan Pusat Primata Universitas Gottingen, Jerman, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor.
Semuanya sama-sama terbaik didunia, dan tidak ada duplikatnya. Artinya, jika ingin menikmati wisata tersebut harus datang langsung ke Mentawai, begitu benarlah eksotiknya pulau Mentawai. Pariwisata Mentawai mulai dikenal pertengahan tahun 1990,yaitu secara tidak sengaja seorang perselancar dari Australia menemukan ombak yang bagus untuk berselancar.
Budaya orang Mentawai lain dengan budaya daerah luar pada umumnya, selain masih asri hingga sekarang budaya Mentawai mempunyai keunikan tersendiri. Sebagian besar orang Mentawai tetap memegang teguh religinya yang asli, ialah Arat Bulungan. Arat berarti “adat” dan bulungan berasal dari kata bulu (daun).
Rumah adat Mentawai bernama Uma, bentuknya unik terbuat dari bambu. Biasanya Uma dihuni oleh kepala suku atau pemimpin adat yang disebut dengan Sikerei.
Banyak tradisi-tradisi Mentawai yang unik dan menarik perhatian wisatawan jika berkunjung seperti, ritual-ritual, meruncing gigi, dan tato. Konon tato milik masyarakat Mentawai merupakan tato tertua di dunia.
Wisata kuliner juga tak kalah menariknya. Masakan modern sudah banyak di daerah itu, walaupun tidak selengkap di kota-kota besar. Tapi menakjubkannya, makanan tradisional khas Mentawai amatlah enak-enak walaupun sederhana dan unik. Contohnya, Subet makanan khas Mentawai yang juga menjadi makanan pokok selain dari sagu. Terbuat dari keladi yang direbus, kemudian di tumbuk lalu dibulat-bulatkan dan ditaburi kelapa, mirip onde-onde orang padang. Bedanya, subet enak disantap pakai gulai atau cabe giling mentah.
Selain itu ada namanya toek. Makanan yang satu ini dapat dipastikan tidak aka nada ditemukan dibelahan lain dunia selain Mentawai. Dilihat sepintas toek mirip mie besar yang direbus lalu mengembang, toek bisa dimakan sebelum dimasak ataupun setelah dimasak. Mirip mie tapi toek terbuat secara alami mengandung banyak vitamin, khasiat utamanya dapat memutihkan kulit dan memuluskan.
Toek merupakan lendir atau getah pohon ettet (nama yang diberikan orang Mentawai pada tumbuhan tersebut) atau tumung yang membeku. Pohon itu ditebang kemudian dikerat-kerat kira-kira panjang 50-100 centimeter kemudian direndam dalam air yang mengalir sekitar 2 bulan lamanya. Pada kerat-kerat tersebut akan muncul bintik-bintik sebagai tanda sudah berisi toek, selanjutnya dibelah maka toek sudah ada didalamnya. Rasanya sedikit manis, dingin, dan agak berlendir.
Hingga saat ini tradisi dan makanan tradisional tersebut masih terjaga keasliannya. Pemerintah Daerah kepulauan Mentawai akan memproyeksikan beberapa desa sebagai lokasi wisata budaya dan kuliner khas Mentawai.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Mentawai Desti Seminora mengatakan bahwa desa-desa tersebut di antaranya adalah Desa Madobag, Desa Tuapejat, dan Desa Bosua.
Desti mengatakan, proyek desa wisata itu akan diwujudkan pada 2011. Pengembangan desa-desa wisata itu dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun industri pariwisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Kini Mentawai berduka, 25 Oktober lalu adalah hari paling menyakitkan seumur bumi Sikerei itu, monster ganas tsunami menerjang Mentawai. Ratusan orang meninggal, ratusan pula yang hilang serta ribuan orang kehilangan tempat tinggal serta mata pencaharian. Fasilitas tujuan wisata juga porak poranda dibuatnya, resort hancur, pasir putih berlumuran sampah.
Tapi itu musibah, yang tak satu jiwapun dapat mencegahnya, apalagi mengetahui kapan datangnya. Semua hanya kehendak Tuhan yang harus diterima manusia dengan lapang dada. Duka tak selamanya, ia pasti berlalu. Disunting dari tulisan Suryandika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: