Tak Ada Lagi Rangkiang di Rumah Gadang

PADANG, KOMPAS.com — Masyarakat, terutama petani di Sumatera Barat (Sumbar), kini tidak lagi menyimpan hasil panen di rangkiang (bangunan lumbung padi, red) yang dibangun di halaman rumah gadang (rumah adat Minangkabau). 

Petani Sumbar kini lebih memilih rumah mereka yang baru sebagai tempat menyimpan hasil panen karena merasa lebih aman dibanding menyimpan secara tradisional di dalam Rangkiang. Demikian kata peneliti arsitektur minang dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta, Dr Eko Alvares di Padang, Senin.

Perubahan ini menjadi salah satu dari mulai banyaknya terjadi perubahan pada ruang luar rumah gadang.

Padahal, secara tradisional, rangkiang dibangun sebagai pendukung ruang luar rumah gadang yang berfungsi untuk menyimpan padi atau panen lainnya. Hasil panen disimpan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai panen berikutnya.

Ia menjelaskan, dari sisi fungsinya, rangkiang merupakan elemen penting dari rumah gadang. Namun, dengan perubahan tempat menyimpan hasil panen, membuat rangkiang tidak lagi digunakan dan dibiarkan tanpa perawatan.

Tidak terawatnya salah satu bangunan pendukung rumah adat Minangkabau itu juga menunjukkan kurangnya perhatian dan pengetahuan masyarakat Minang di daerah terhadap pelestarian rumah gadang.

Kondisi itu juga bagian dari telah banyaknya perubahan pola ruang luar rumah gadang saat ini.

Ruang luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam dan dipisahkan dari alam dengan memberi frame, dalam arti kata sebagai lingkungan luar buatan manusia yang merupakan arsitektur tanpa atap.

Akan tetapi, saat ini telah banyak terjadi perubahan pola ruang luar rumah gadang karena kurangnya perhatian dan pengetahuan masyarakat Minang di daerah terhadap pelestarian rumah adat Minangkabau ini.

Perubahan ini, antara lain mulai banyaknya rumah hunian atau bangunan lain seperti warung, kamar mandi, dan WC di halaman atau di sisi rumah gadang.

Menurut dia, rumah gadang juga mulai ditinggalkan sebagai awal dari perubahan pola ruang luar rumah adat tersebut.

Ia mengatakan, salah satu penyebabnya,  munculnya tren kehidupan baru pada masyarakat Minang di perkampungan dengan mulai terpengaruh gaya hidup orang kota yang cenderung individual dan menggunakan teknologi modern.

Tren tersebut memberikan dampak bagi korelasi negatif terhadap rumah gadang dengan rumah baru, dimana rumah gadang yang lebih dulu berdiri kini hanya sebagai hiasan dan saksi bisu berdirinya rumah-rumah baru.

Korelasi seperti itu akan memberikan dampak bagi kelangsungan rumah gadang dimana rumah baru justru dibangun pada bagian depan atau di samping rumah gadang.

”Penempatan rumah baru yang kurang bersahaja ini tentu sangat mengganggu pola luar rumah gadang,” kata Dr Eko Alvares.

Disunting dari tulisan Jodhi Yudono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: